Langsung ke konten utama

Puisi

 Hasrat Suci


Sesunging senyum telah mengenai dinding-dinding rusuk.

Paras teduh menjadi obat penghilang kantuk. 

Apa peduliku terhadap malam tak kunjung petang.

Redup cahaya lampu rumah menerangi lamunan.

Memutar kembali rekaman kisah beberapa tahun silam.

Kau bilang kita akan memulai sebuah cerita.

Menikamati masa muda. 

Hingga menua bersama. 

Ku kira ia gurauan.

Rupanya sebuah keseriusan.


Sumenep, 19 Januari 2021.

*Sangat amatir. Bisa dihujat tanpa dibullly. 🙏🏻😁

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi tentang rindu

Hujatan Sebuah  Rindu  Seorang aku yang kini kian membeku. Beku oleh senyummu, Beku oleh kedua matamu, Beku pada suatu titik, Terletak pertanyaan dari itu semua. Mengapa itu ada? Merngapa lambat laun kian membara? Mengapa? Ya, saat ini aku tahu jawabannya. Sebuah takdir yang menjelaskannya sendiri. Jangan berlari jika kau masih menanti. Jangan mendekat jika hati tidak sepakat. Cinta memang selalu begitu. Memiliki cara sendiri menarik bayangan. Memiliki candu membalik kenangan. Bahkan selalu ingin menjemputnya. Untuk tetap singgah, di sisimu dan selalu berada di hatimu. Sebut saja ia rindu yang sedang menghujatku.