Hujatan Sebuah Rindu
Seorang aku yang kini kian membeku.
Beku oleh senyummu,
Beku oleh kedua matamu,
Beku pada suatu titik,
Terletak pertanyaan dari itu semua.
Mengapa itu ada?
Merngapa lambat laun kian membara?
Mengapa?
Ya, saat ini aku tahu jawabannya.
Sebuah takdir yang menjelaskannya sendiri.
Jangan berlari jika kau masih menanti.
Jangan mendekat jika hati tidak sepakat.
Cinta memang selalu begitu.
Memiliki cara sendiri menarik bayangan.
Memiliki candu membalik kenangan.
Bahkan selalu ingin menjemputnya.
Untuk tetap singgah, di sisimu dan selalu berada di hatimu.
Sebut saja ia rindu yang sedang menghujatku.
Seorang aku yang kini kian membeku.
Beku oleh senyummu,
Beku oleh kedua matamu,
Beku pada suatu titik,
Terletak pertanyaan dari itu semua.
Mengapa itu ada?
Merngapa lambat laun kian membara?
Mengapa?
Ya, saat ini aku tahu jawabannya.
Sebuah takdir yang menjelaskannya sendiri.
Jangan berlari jika kau masih menanti.
Jangan mendekat jika hati tidak sepakat.
Cinta memang selalu begitu.
Memiliki cara sendiri menarik bayangan.
Memiliki candu membalik kenangan.
Bahkan selalu ingin menjemputnya.
Untuk tetap singgah, di sisimu dan selalu berada di hatimu.
Sebut saja ia rindu yang sedang menghujatku.
Komentar
Posting Komentar